Tittle : The Named I Love (Angel Without Wings)
Author : Nara
Main Cast : Lee Jinki (onew) , Man Yuri (imajination girl)
Genre : Romance
Soundtrack : The Named I Love (ondubu)
>>>anyeong
yeorobun...ini mau share-share aja FF yang terlupakan T.T...(udah lama
dibuat pas tugas B.indo)...ayooo chingu2...Onnie2...Oppa2....silahkan
dibaca :D
~~~~~~~~~
Pagi ini Jinki
merasakan sakit kepala yang luar biasa,walaupun sekarang sedang musim
dingin dan turun salju,tapi dia tidak pernah merasakan sakit kepala yang
sehebat ini.
Bulan Maret telah usai sekitar sebulan yang lalu,tapi udara dingin masih menyelimuti kota Soeul pagi ini.
Jinki mengambil kuas serta cat air dan bergegas menuju kamarnya,dia ingin melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.
Tapi sebelum kuasnya menyentuh kanvas,lagi-lagi hidung Jinki mengeluarkan darah.
Memang
sejak sakit kepala itu berlangsung,Jinki sering sekali mimisan bahkan
pingsan beberapa kali,namun sebagai seorang pelukis professional dia
hanya tinggal sendirian di sebuah apartamen tanpa teman dan saudara yang
menemaninya atau mengurusnya ketika dia sakit.
Sudah 1
minggu berlalu,namun Jinki sama sekali belum menyelesaikan lukisannya
sementara kliennya hanya memberi waktu 2 bulan kepadanya.
Mimisan sesering itu sangat mengganggu untuknya karena dia kehilangan konsentrasi dan jari-jarinya pun menjadi lemah.
"Sebenarnya apa yang terjadi padaku"
Tanya Jinki sambil menatap dirinya yang pucat lewat cermin.
"Lebih
baik aku ke dokter,sudah seminggu lebih pekerjaan ku tertunda,aku juga
tau..mana mungkin tuan Gi Gwang ingin menunggu terlalu lama untuk
lukisannya ini"
Gumam Jinki yang kemudian bergegas keluar apartemen sambil memakai jaket bulu nya.
Jinki pergi ke rumah sakit dengan berjalan kaki karena rumah sakit hanya beberapa blok dari apartemennya.
Ketika mencapai setengah perjalanan,tiba-tiba Jinki berhenti di depan toko bunga yang biasa dia lewati.
Entah kenapa hari ini dirinya tergerak untuk melihat-lihat bunga yang ada disana.
Akhirnya ia memutuskan untuk masuk ke dalam toko bunga tersebut.
"Anyeonghaseo"
Ucap Jinki kepada seorang wanita yang sedang sibuk memotong tangkai bunga.
"Anyeong"
Jawab wanita itu sambil tetap memotong tangkai bunga dan tak melihat wajah Jinki.
"Bunga seperti apa yang ingin kau cari?"
Tanya wanita itu yang masihsibuk memotong tangkai-tangkai bunga di tangannya.
"Emh,apa ya..sebenarnya aku hanya ingin melihat-lihat,tapi aku memerlukan bunga untuk orang sakit"
Jawab Jinki sambil tersenyum.
"Oh begitu ya,tunggu sebentar,aku akan mengambilkan beberapai tangkai bunga mawar putih untukmu"
Wanita itu menuju ke tumpukan bunga,dan kembali lagi dengan membawa seikat mawar putih yang diikat dengan pita kuning.
"Ini,semuanya jadi 1800 won"
Kata wanita itu sambil menyerahkan sebuklet bunga ke Jinki.
"Iya terimakasih,ini uangnya"
Ucap Jinki sambil menyodorkan 2 lembar uang 1000 won.
Wanita itu segera memasukkan uang yang diberi Jinki ke dalam mesin kasir.
"Mianhe noona,kembaliannya?"
Tanya Jinki heran.
"Kembalian? memang berapa won yang kau beri padaku?"
Tanya wanita itu polos.
"2000 won noona"
Jawab Jinki dengan tatapan bingung.
"Mianhe...aku tidak tahu,bisakah kau ambil sendiri kembaliannya?"
Ucap wanita itu seadanya.
"Mwo?! Memang kenapa noona?"
Tanya Jinki semakin bingung.
"Aku..aku buta"
Jawabnya lirih.
"Eh? Mianheyo noona,aku tidak tau kalau kau..baik aku ambil sendiri kembaliannya"
Karena
merasa bersalah,akhirnya Jinki tidak ingin lama-lama berbicara dengan
wanita itu,dia takut menyinggung perasaan wanita itu.
"Gomawo"
Ucap wanita itu sambil membungkukkan badannya.
"Gomawo noona"
Jawab Jinki membalas ucapan terimakasih wanita itu.
Di rumah sakit.
"Bagaimana dok?"
Tanya Jinki yang khawatir akan keadaan dirinya yang semakin pucat.
"Ehm,begini...sebenarnya
masih ada harapan jika kau menemuiku 1 bulan lebih
cepat...tetapi...jika ingin kutolong..masalahnya hanya waktu...sudah
terlambat"
Jelas dokter kepada Jinki.
"Maksud dokter?"
Tanya Jinki yang menaikkan volume suaranya.
"Tenang tuan tenang"
Kata dokter berusaha menenangkan.
"Ok,mianhe dok"
Jawab Jinki lirih.
"Kau..terkena
kanker sel darah putih,atau Leukimia,itulah penyebab dirimu sering
sekali mimisan beberapa waktu ini..dan aku harus memberi tahu mu,bahwa
sisa hidupmu diperkirakan tinggal empat bulan lagi,dengan sangat
menyesal saya harus menyampaikan ini,mianhe tuan Jinki"
Ucap dokter dengan nada penyesalan.
"Apa??? jadi aku...aku..."
Kata Jinki berusaha menyembunyikan kesedihannya dengan menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya.
Dokter pun hanya bisa mengiyakan dengan mengganggukkan kepalanya.
Ke esokan harinya.
Siang
ini Jinki baru selesai mengadiri acara di sebuah stasiun televisi,bagi
setiap pecinta seni lukis maupun pelajar,nama Jinki sudah tidak asing
lagi.
Karena selain baru berumur 20 tahun,sikapnya yang ramah dan
wajahnya yang tampan,karyanya juga sering muncul di buku seni pelajaran
sekolah,museum,bahkan dia beberapa kali menyumbangkan lukisannya ke
galeri seni SMA maupun Universitas di Soeul.
Jinki turun
dari taksi dan berniat memasuki pintu masuk apartemennya, namun ketika
ingin melangkah masuk,sekelompok gadis SMA berteriak-teriak histeris
memanggil namanya dan mengejarnya.
"JINKI,JINKI,JINKI !!!!!!!"
Teriak kerumunan gadis-gadis itu.
"Hei,Anyeong!!!"
Teriak Jinki sambil melambaikan tangan.
Namun
kerumunan gadis-gadis SMA itu tetap berlari ke arah Jinki dan
menghampiri Jinki,Jinki pun semakin panik ketika gadis-gadis yang hampir
sebaya dengan usianya itu mencakar,mencubit,bahkan mencium pipinya
tiba-tiba.
Akhirnya Jinki pun mengambil tindakan cepat dengan
berlari sekencang-kencangnya dan berusaha menghindari kejaran kerumunan
gadis-gadis tersebut.
Karena sudah tidak kuat berlari,akhirnya
Jinki segera masuk ke dalam sebuah toko untuk menghindari gadis-gadis
yang masih mengejarnya itu.
"Ah..hampir saja"
Ucap Jinki terengah-engah sambil mengelus-elus dadanya.
"Maaf tuan,Ada apa?"
Tanya wanita itu.
Jinki terkejut karena dia masuk tanpa sengaja ke toko bunga yang pernah dia datangi itu.
"Oh?? Ehm..aku,aku ingin membeli bunga lagi"
Jawab Jinki salah tingkah.
"Suaramu..kau yang beberapa hari lalu membeli mawar putih ya?"
Tanya wanita itu.
"Ne,aku Lee Jinki,bangapseumnida"
Jawab Jinki sopan.
"Mwo? Benarkah? Aku Man Yuri"
Jawab wanita itu gugup.
"Kau kenal aku?"
Tanya Jinki pada Yuri.
"Ya
tentu,kau menjadi pelukis sejak SMA bukan? ayahku seorang pecinta
seni,dan 2 tahun lalu ayahku pernah membeli 4 karya lukisanmu
itu,lukisanmu sangat indah Dan kami sangat menyukainya"
Puji Yuri dengan nada berseri-seri.
"Benarkah? Ah gomawo Yuri"
Kata Jinki senang.
"Eh? Kau bilang kau menyukai lukisan ku? Berarti waktu itu kau.."
Belum sempat melanjutkan kata-katanya Yuri sudah menjawab.
"Ya
setahun yang lalu ketika aku dan ayahku sedang menuju ke Soeul dengan
mobil,tiba-tiba mobil yang kami tumpangi menabrak sebuah truk yang
melaju dengan kecepatan tinggi,ayahku meninggal di tempat,dan mataku
buta seketika karena mengenai pecahan kaca mobil"
Ucap Yuri lirih,namun dia berusaha menutupinya dengan senyum.
"Oh iya,bagaimana dengan dirimu?"
Tanya Yuri pada Jinki.
"Aku
hobi melukis sejak SD,dan mulai menekuninya sejak SMP,dan di SMA aku
mendapat peluang besar karena memenangkan lomba melukis di acaranya
Soeul Art Festival sehingga menjadi seperti sekarang ini,namun ayahku
tidak suka pada bakatku ini dan menjadikannya alasan untuk menceraikan
ibuku,dan akhirnya ibuku jatuh sakit dan meninggalkanku untuk
selama-lamanya.Selama ini aku hidup mandiri di Soeul dengan menggunakan
uang hasil karya seniku"
Kata Jinki tegar.
"Kau pasti sangat kesepian ya?"
Tanya Yuri sedih dan hampir menitikkan air mata.
"Ah..tidak kok,hei kau jangan menangis,seorang wanita yang cantik sepertimu tidak boleh menangis"
Goda Jinki berusaha menghibur Yuri.
"Ah,kau ini bisa saja,hahahaha"
Ucap Yuri sambil tersenyum dan melepaskan tawanya.
Perkenalan
mereka pun berlanjut,dalam kondisinya yang sakit dan kian
memburuk,Jinki sering menemui Yuri untuk sekedar mengobrol,makan
bersama,atau sekedar menemani Yuri menjaga toko.
Dan perlahan Jinki mulai memendam rasa cinta kepada Yuri.
Begitu
juga Yuri,ia mulai merasakan perhatian Jinki yang begitu besar padanya
dan menerima dia apa adanya dia juga mencintai Jinki.
Namun Ada satu hal yang tak bisa Jinki hindari,yaitu waktu.
Sebenarnya dia ingin sekali memberitahu kepada Yuri bahwa ia sangat mencintainya.
Namun ia takut,kalau Yuri tahu,Yuri akan merasa sangat kehilangan dan terpukul begitu tahu keadaan dirinya yang sebenarnya.
Sudah
memasuki bulan ke 4 untuk Jinki dalam masa kurungan penyakit yang telah
mengambil seluruh impian dan masa depannya saat ini.
Jinki
merasa waktunya sudah dekat,namun dia tidak bisa tenang karena telah
menyimpan rasa penyesalan yang mendalam,yaitu mencintai Yuri.
Dia tidak ingin membuat Yuri sedih dengan kehilangan dirinya,begitu juga sebaliknya.
Namun dia masih memutuskan untuk tidak memberitahu Yuri akan hal ini.
Hari ini Jinki sibuk menyelesaikan lukisannya,jadi dia tidak menemui Yuri hari ini.
Ia
sibuk menyelesaikan lukisan untuk siang nanti karena dia akan hadir
kembali dalam acara TV untuk menunjukkan karya tahunannya pada seluruh
Korea,dia menamakan lukisan itu "Lady in White Roses" dan lukisan itu
menggambarkan seorang gadis cantik yang diselimuti oleh mawar
putih,"Sungguh mahakarya yang indah" komentar tiap orang dalam blog
pribadi Jinki.
Sebelum berangkat ke stasiun TV
yang dituju,Jinki menyempatkan diri menelepon Dokter Cho Minho,dokter
yang memeriksanya waktu itu.
"Yeobsoyo"
"Yeobsoyo,ada apa Jinki?"
"Dokter begini,aku sangat yakin dengan keputusanku yang waktu itu"
"Ah,baiklah Lee Jinki,sore ini aku dan tim medis lainnya akan berusaha keras,oh iya siapa nama gadis itu?"
"Man Yuri...oh iya dok,bolehkah aku meminta satu hal lagi?"
"Tentu boleh,apa itu?"
"Jika waktunya sudah tiba,tolong sebisa mungkin jangan sampai dia tahu"
"Oh,baiklah,akan aku usahakan"
"Gomawo dok"
Mereka berdua mengakhiri pembicaraan.
Tiba
di stasiun TV,Jinki pun memasuki studio yang dimaksud,dan acara
siarannya segera dimulai,ya,acara bergengsi yang disiarkan secara
langsung dan disaksikan oleh puluhan juta pasang mata di Korea.
Sementara itu di toko bunga,Yuri sibuk menekan redial telepon.
"Kenapa tidak diangkat ya? Apa dia sibuk?"
Tanya Yuri sedih.
"Kenapa dia tidak datang? Ada apa ya? Uh..jahatnya dia,padahal aku sudah capek-capek membuatkan rangkaian bunga untuknya"
Gumam Yuri.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.
“TOK..TOK...TOK....”
"Ya?? Siapa??"
Tanya Yuri.
"Kami petugas rumah sakit dari rumah sakit Dombaek Sam"
Jawab seorang wanita dari luar.
Yuri pun membukakan pintu.
"Mianhe,ada apa?"
Tanya Yuri sopan.
"Noona
tolong ikut kami,karena noona telah mendapat donor mata gratis,untuk
saat ini noona silahkan ikut kami untuk melakukan pemeriksaan lebih
lanjut"
Jawab petugas itu.
Air mata Yuri tak bisa tertahan
lagi,air mata bahagia kini telah membasahi kedua pipinya,Yuri pun
mengikuti petugas mobil masuk ke dalam mobil dan berangkat menuju
RS.Dombaek Sam.
Pukul 16.27 di Stasiun TV
Mnet,wawancara dengan Lee Jinki sudah berlangsung satu setengah jam
dengan Lee Taemin sebagai pembawa acaranya,dan Key direktur perusahaan
galeri seni dari California belum puas menanyakan mahakarya yang sedang
dikagumi oleh semua orang di Soeul saat ini.
"Jadi lukisan ini bercerita tentang apa? tolong jelaskan pada kami"
Tanya Lee Taemin.
"Lukisan
ini bercerita tentang seorang wanita yang diselimuti oleh
penantian,mawar putih yang menggambarkan kesedihan,namun wanita itu pun
tersenyum di dalam tangisnya,karena dia tahu,mawar putih itu yang selama
ini menemaninya,naungan kesepian yang menemaninya"
Jelas Jinki.
"Oh! That's great..so wonderful"
Puji direktur itu.
"Jadi kepada siapa kau akan menjualnya dan berapa harganya?"
Tanya Kim Jonghyun yang merupakan kolektor lukisan yang sejak awal mengincar lukisan Lee Jinki.
Namun
belum sempat Jinki menjawab,tiba-tiba hidungnya mengeluarkan
darah,orang-orang yang berada disekitarnya menjadi panik,termasuk
penonton.
"Hei cepat hubungi petugas medis!!!!"
Teriak Lee Taemin panik.
"Hei kau tidak apa-apa??? Sebentar lagi petugas medis datang"
Ucap Lee Taemin,namun dia terkejut karena tubuh Lee Jinki terhuyung ke arahnya dan hidungnya makin mengeluarkan banyak darah.
Jinki berusaha berbicara pada Lee Taemin dengan keadaannya yang sekarat.
"Jangan panggil tim medis..."
Pinta Jinki dengan suara pelan.
"Hei
apa maksudmu!? Kau sudah sekarat,sadarlah jangan bicara
macam-macam,memangnya apa yang terjadi dengamu? Kenapa tidak memberitahu
kami?"
Tanya Taemin berusaha menenangkan Jinki.
Namun Jinki mengambil mic yang berada di tangan Taemin.
Perlahan dia berbicara dengan suara lirih.
"Lukisan
itu tidak akan aku jual..tuan Jonghyun..semuanya..lukisan itu tidak
akan ku jual..lukisan itu..akan kuberikan kepada seseorang...."
Kamera pun mengarah ke arah Jinki.
Orang-orang pun berteriak histeris,termasuk penonton di rumah yang menyaksikan keadaan ini.
"Jadi,untuk siapa lukisan itu"
Tanya Taemin penasaran.
"Lukisan itu...untuk....Man Yuri..."
Jawab Jinki yang suaranya makin tidak terdengar.
"siapa dia?"
Tanya
Taemin lagi,namun kali ini diiringi tetesan air mata,karena dia tak
kuat melihat sahabat SMA sekarat serta berlumuran darah di depan matanya
seperti ini.
"Orang yang ku cintai..."
Seketika ketika menyebut nama itu kedua mata Jinki terpejam,dan keheningan melanda stasiun TV itu.
"Hey! Tim medis datang!!!"
Teriak seorang kru stasiun TV tersebut.
"Sudah terlambat"
Jawab Lee Taemin yang pecah dalam tangisnya,kemudian memeluk erat sahabatnya itu.
Dua bulan kemudian semenjak hari kematian Lee Jinki.
"Man Yuri , ada seseorang yang ingin menemui anda,oh iya,sekarang Anda boleh membuka mata anda,saya lepas perbannya ya"
Kata suster itu yang kemudian membuka perban di mata Yuri.
"Benarkah? Apakah itu Jinki? Sudah 2 bulan aku tidak mendengar kabarnya,dia pasti senang aku bisa melihat"
Ucap Yuri senang,
Namun ketika pria itu masuk,bukanlah Lee Jinki yang dilihatnya,melainkan orang lain,
"Anyeong"
Sapa pria itu.
"Ya anyeong,apakah kita pernah bertemu? Nuguseyo?"
Tanya Yuri yang tampak asing dengan kehadiran Lee Taemin,
"aku Taemin,sahabatnya Jinki,aku membawakan ini untukmu"
Jawab Lee Taemin sambil menyerahkan sebuklet mawar putih dan lukisan.
"oh? Gomawo Taemin,tapi..kemana Jinki? Apa dia tidak bisa datang?"
Tanya Yuri penasaran.
"Ya,dia tidak bisa datang"
Jawab Taemin singkat.
"Oh begitu ya"
Kata Yuri sedih.
"untuk selamanya"
taemin berusaha menyembunyikan kesedihannya setelah berkata seperti itu.
"maksudmu!?"
tanya yuri bingung.
"dia..sudah tidak ada"
taemin menatap yuri dengan serius.
"hahaha,tidak mungkin,itu lukisan yang baru dia buat kan..jangan bercanda"
"aku
serius,Yuri sebelumnnya dia ingin meminta maaf padamu,sebenarnya dia
ingin mengatakan yang sebenarnya bahwa dia terkena Leukimia sejak 6
bulan lalu,tapi dia tidak berani bilang karena itu hanya akan membuatmu
sedih,dia begitu karena.."
"Karena apa!!??"
Tanya Yuri dengan tatapan berlinang air mata dan tidak percaya.
"Karena dia mencintaimu"
Jawab Taemin tegas
"Dia menyuruhku untuk menyampaikan ini semua padamu"
Ucap Taemin melanjutkan kata-katanya yang sempat terpotong karena air mata yang diiringi dengan oleh isak tangis.
Yuri
tak bisa berkata-kata lagi,kata-kata yang disampaikan Taemin tadi
benar-benar membuatnya terpukul,hanya tangisan yang menderu dan raungan
nama Lee Jinki yang telah menggambar kesedihannya saat ini,kesedihan
yang benar-benar mendalam,kesedihan akan kehilangan seseorang yang
dicintai.
Taemin pun mendekati Yuri,memberikan pelukan hangat,pelukan hangat yang mungkin sejenak bisa menenangkan hati Yuri.
Dalam peluknya itu,perlahan dia berbisik pada Yuri.
"kini
yang kau lihat sama dengan yang Jinki lihat,dia selalu ada dalam
dirimu,pancaran sinar matanya sama dengan matamu,sekarang kau sahabatku
juga....
jagalah mata Jinki baik-baik"
Tangisan
Yuri semakin menderu,dipeluknya Taemin lebih erat lagi,isak tangisnya
yang tak beraturan,satu lagi kebenaran yang dia ketahui dari Taemin
tentang Jinki yang makin membuatnya makin merasa kehilangan.
Dengan matanya yang masih basah oleh air mata,ditatapnya lukisan itu.
"itu
aku...dan dibalik semak mawar putih itu ada kau...kau lebih dari
sekedar orang yang kucintai...kau adalah malaikat yang kucintai..."
Ucap Yuri dalam hati.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
thanks for visit my blog ! hope you get inspiration in here !